Senin, 07 Januari 2013

Nasikh dan Mansukh


Abdussalam
Abstrak
Ada tuduhan dalam teks hadits terdapat inkonsistensi status sebuah perkara, yang nantinya akan menimbulkan negative thinking bahwa Nabi SAW di anggap  tidak konsisten, anggapan semacam itu adalah kesalahan orang yang memang tidak paham bahkan tidak mengetahui seluk beluk ilmu hukum.  Pakar hukum Islam (mujtahid) terdahulu mengkaji dan meneliti dalil-dalil yang secara tekstual saling bertentangan, kemudian membuat langkah-langkah penyelesaian. Hasil dari pada kajian para pakar hukum di atas sekarang bisa kita peroleh dan kita pelajari dalam literatur hukum Islam yang termuat dalam bab khusus, yaitu sub kontradiksi hukum.

Apabila menurut analisis seorang mujtahid ada dua dalil yang saling bertentangan, maka dapat digunakan metode tertentu untuk menyelesaikannya. Ulama Madzhab Hanafi mengemukakan empat metode penyelesaian: 1) An-Nasakh, 2) Tarjih, yaitu menguatkan salah satu dari dua dalil yang bertentangan berdasarkan beberapa indikasi yang mendukungnya. Ini dapat dilakukan jika masa turunnya kedua dalil tersebut tidak diketahui. Namun dalam melakukan tarjih, seorang mujtahid harus mengemukakan argument yang membuat satu dalil lebih kuat dibandingkan dengan dalil lainnya.  3) Al-Jam’u wa al-Taufiq, yaitu menggabungkan dalil yang bertentangan dan kemudian mengkompromikannya. Metode ini dilakukan jika penyelesaian dengan cara tarjih tidak berhasil. Metode ini didasarkan atas kaidah fiqh “mengamalkan kedua dalil lebih baik daripada meninggalkan atau mengabaikan dalil yang lain”.  4) Tasaqu al-Dalilain, yaitu menggugurkan kedua dalil yang bertentangan. Apabila ketiga cara di atas tidak bisa dilakukan oleh seorang mujtahid, maka ia boleh menggugurkan kedua dalil tersebut. Adapun cara penyelesaian dua dalil yang bertentangan menurut ulama Madzhab Syafi’i, Maliki, Hambali, dan al-Dhahiri adalah sebagai berikut: 1. Al-Jam’u wa al-Taufiq 2. Tarjih. 3. An-Nasakh. 4. Tasaqu al-Dalilain. Menurut mereka keempat cara ini harus ditempuh oleh mujtahid secara berurutan. 
Dalam makalah ini akan dibahas Nasikh dan Mansukh sebagai salah satu metode metode yang diberdayakan para ulama hadits dalam menyelesaikan permasalahan seputar kontradiksi hadith.

Definisi Nâsikh dan Mansukh
Secara etimologi kata Nasikh adalah bentuk isim fa’il, dari madli نسخ yang mempunyai beberapa makna, yaitu الإزا لة (meng-hilangkan) seperti kata نسخت الشمس الظلّ (mata hari itu menghilangkan naunganya). Dan النقل (memindahkan) seperti kaliamat نسخت الكتاب (aku memindahkan apa yang ada di dalam buku). Jadi Nâsikh itu menghilangkan yang mansukh atau memindakannya pada yang lain.[1] Sedangkan mansukh adalah hukum yang di angkat atau dihapuskan[2]
Sedangkan secara terminology para ahli hadis dan ushuliyun memberikan definisi yang berbeda namun subtansinya adalah sama. Seperti yang diberikan oleh Mahmud al-Thahhân:
رفع الشارع حكماً منه مقدماً بحكمٍ منه متأخر
“Mengangkat hukum yang terdahulu(sebelumnya) dengan hokum yang lain (kemudian)”[3]
Sedangkan definisi yang diberikan oleh usuli yakni Abdul Wahab khȃlaf ialah:
إبطال العمل بالحكم الشرعي بدليل متراخ عنه، يدلّ على إبطاله صراحة او ضمناً، إبطالاً كليّاً أو إبطالاً جزئياً مصلحة إقتضيته، أو هو إظهار دليلٍ لاحقٍ نسخ ضمناً العمل بدليل السابق
“Pembatalan pemberlakuan hukum Shar’i dengan dalil yang datang kemudian dari hukum sebelumnya, yang menunjukan pembatalannya baik secara terang-terangan atau secara kandungan saja, baik secara pembatalan secara umum ataupun pembatalan sebagian saja kareana suatu kemaslatan yang menghendakinya, atau nasikh itu adalah: Menyatakan dalil usulan yang mengandung penghapusan pemberlakuan dalil yang terdahulu.”[4]
Menurut al Jurjani  nâsikh adalah datangnya dalil Syâr’i setelah adanya dalil syar’i awal yang mengharuskan adanya perbedaan hukum atau  bisa juga diartikan keterangan tentang berakhirnya hukum syara’ sehingga harus diganti dan dirubah.[5]  
Mengenai nasakh mansukh dalam ilmu hadits Para muhadditsin memberikan gambaran tentang ilmu hadits nasikh dan mansukh seperti keterangan Suyuti.[6]   
والمختار أن النسخ رفع الشارع حكما منه متقدما بحكم منه متأخر
“  Penghapusan Syar’i terhadap suatu hukum yang datang duluan dengan hukum yang datang belakangan “.
 Dari pengertian pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu Nasikh mansukh hadith adalah : ilmu yang membahas hadits-hadits yang saling berlawanan maknanya, yang tidak mungkin dapat dikompromikan dari segi hukum, dengan cara menentukan salah satu hadith sebagai nasikh (penghapus) dan hadith yang lain sebagai mansukh (yang dihapus), hadits yang mendahului adalah sebagai mansukh dan hadits yang terakhir adalah sebagai nasikh.

Urgensi Ilmu Nâsikh dan Mansukh
Salah satu cabang pengkajian Ilmu Hadits yang terpenting utamanya adalah yang berkenaan dengan hadits hukum yaitu Ilmu Nâsikh dan Mansukh. Kepentingannnya tidak dapat dihilangkan karena ia merupakan salah satu syarat ijtihad. Secara azas seorang mujtahid harus mengetahui latar belakang dalil secara hukum khususnya hadits yang akan dijadikan azas hukum.

Atas dasar itulah al Hazimy berkata : ”Ilmu ini termasuk sarana penyempurna ijtihad. Sebab sebagaimana diketahui bahwa rukun utama didalam melakukan ijtihad. Itu ialah adanya kesanggupan untuk memetik hukum dari dalil-dalil naqli (nash) dan menukil dari dalil-dalil naqli itu haruslah mengenal pula dalil yang sudah dinasakh atau dalil yang menasakhnya. Memahami khitab Hadits menurut arti literal adalah mudah dan tidak banyak mengorbankan waktu. Akan tetapi yang menimbulkan kesukaran adalah mengistinbathkan hukum dari dalil-dalil nash yang tidak jelas penunjukannya. Diantara jalan untuk mentahqiqkan (mempositifkan) ketersembunyian arti yang tidak tersurat itu ialah mengetahui mana dalil yang terdahulu dan manapula yang terkemudian dan lain sebaginya dari segi makna.”

Seorang ilmuwan hadits yang mengetahui nasakh dan masukh mempunyai keunggulan, nasakh dan mansukh adalah ilmu yang rumit dan sulit sebagaimana ungkapan al Zuhri: “ yang paling memberatkan dan menguras tenaga bagi ahli fikih adalah membedakan hadits yang telah dimansukh dari dengan hadits yang manasihknya.[7]
 Imam syafii seorang yang terkenal dengan gelar penolong sunnah mempunyai peran yang besar dalam bidang ini.
Pengetahuan tentang nasikh dan mansukh mempunyai fungsi dan peranan yang besar bagi para ahli ilmu agar pengetahuan tentang suatu hukum tidak kacau dan kabur. Karena itulah kita temukan perhatian mereka kepada hadis sangat besar, Imam Syafi’i, imam Hambali dan para imam yang lain begitu menganggap penting ilmu ini, karena dia termasuk ilmu yang dengannya pemahaman hadis akan menjadi benar dan tidak sempit.

Karena urgensinya ilmu ini, maka sahabat, tabi’in dan ulama sesudah mereka memberikan perhatian yang sangat serius terhadapnya, imam-imam juga menjelaskan hal ini kepada murid-murid mereka, menganjurkan mempelajarinya, menekuninya, menemukan hal-hal pelik berkenaan dengannya, mensistematisasikannya dan menyusun karya dalam bidang ini[8] 

Cara Mengetahui Nasikh dan Mansukh dan Contohnya
Nasikh dan mansukh dapat diketahui dari beberapa hal sebagai berikut :
1.      Pernyataan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, seperti sabda beliau
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ القُبُورِ.

Abu Hurairah brkata bahwa, “Sesungguhnya Rasulullah saw melaknat untuk ziyarah kubur”.
Pada hadis selanjudnya Nabi SAW bersabda tentang kebolehan berziyarah kubur.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمِ النَّبِيلُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ بِزِيَارَةِ الْقُبُورِ بَأْسًا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar dan Mahmud bin Ghailan dan Al Hasan bin Ali Al Khallal mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim An Nabil telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat." (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Sa'id, Ibnu Mas'ud, Anas, Abu Hurairah dan Umu Salamah." Abu Isa berkata; "Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubârak, Syâfi'i, Ahmad dan Ishaq.[9]"    
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا كَانَ قَبْلَ أَنْ يُرَخِّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَلَمَّا رَخَّصَ دَخَلَ فِي رُخْصَتِهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ و قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا كُرِهَ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِلنِّسَاءِ لِقِلَّةِ صَبْرِهِنَّ وَكَثْرَةِ جَزَعِهِنَّ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat wanita-wanita yang menziarahi kuburan. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Hassan bin Tsabit." Abu Isa berkata; "Ini merupakan hadits hasan shahih. Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan ini sebelum keluarnya keringanan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengenai bolehnya menziarahi kuburan. Setelah beliau memberikan keringanan di dalamnya, termasuk di dalamnya laki-laki maupun perempuan. Adapun sebagian dari mereka berpendapat; dimakruhkannya berziarah atas wanita karena sedikitnya kesabaran dan banyaknya keluh kesah mereka."[10]     

Dari hadis diatas diketahui bahwa dahulu hukum ziyarah kubur itu dilarang, kemudian diperbolehkan, setelah adanya perintah Rasulullah saw, bahkan dalam riwayat yang kedua  Nabi menyebutkan sisi positif ziyarah kubur yakni karena di dalam ziyarah kubur banyak pelajaran yang bisa diambil, juga karena mengingatkan kematian. Maka hadis yang pertama di atas di hapus oleh hadis yang kedua dengan perkataan rukhsoh tersebut.

2.      Media kedua adalah perkataan dan penjelasan dari sahabat, contoh

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ يَصُومُ عَاشُورَاءَ وَيَأْمُرُ بِصِيَامِهِ.
Sebelum ramadhan diwajibkan para ulama mengatakan bahwa puasa pada bulan ashura’ itu disunnahkan, dan mengenai kewajabannya mereka masih berselisih pendapat sebagian dari mereka mengatakan wajib akan tatapi setelah ramadhan diwajibkan maka kewajiban puasa ashra’ tersebut dihapus.

حَدَّثَنَا الْرَّبِيْعُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْشَّافِعِيُّ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ حدَّثَنَا الْرَّبِيْعُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْشَّافِعِيُّ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ النَّبِيُّ يَصُومُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ هُوَ الْفَرِيضَةَ، وَتَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
49 - أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي يَزِيدَ يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: مَا عَلِمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَامَ يَوْمًا يَتَحَرَّى صِيَامَهُ فَضَّلَهُ عَلَى الأَيَّامِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ، يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ. قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَلَيْسَ مِنْ هَذِهِ الأَحَادِيثِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عِنْدَنَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ، إِلاَّ شَيْئًا ذَكَرَهُ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ، وَهُوَ مِمَّا وَصَفْتُ مِنَ الأَحَادِيثِ الَّتِي يَأْتِي بِهَا الْمُحَدِّثُ بِبَعْضٍ دُونَ بَعْضٍ، فَحَدِيثُ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ عَائِشَةَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَأْمُرُ بِصِيَامِهِ، لَوِ انْفَرَدَ كَانَ ظَاهِرُهُ أَنَّ عَاشُورَاءَ كَانَ فَرْضًا

Pendapat Imam asy-Syafi’i, hadis di atas tidak bertentangan kecuali suatu hadis yang diceritakan oleh Aisyah ra. karena beliau menganggapnya puasa yang dikerjakan oleh Rasul Saw atau puasa asyura’ yang diperintahkan oleh Rasul saw tersebut di anggap wajib, karena dzahirnya mimang wajib.[11]
Menurut Abi Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani’ al-Atsram, hadis tersebut adalah Nasikh dan mansukh, namun dzahirnya adalah Ikhtilaf.[12]

50 - وَذَكَرَ مَالِكٌ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَامَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ الْفَرِيضَةَ، وَتَرَكَ عَاشُورَاءَ. قَالَ الشَّافِعِيُّ: لاَ يَحْتَمِلُ قَوْلُ عَائِشَةَ: تَرَكَ عَاشُورَاءَ، مَعْنًى يَصِحُّ إِلاَّ تَرَكَ إِيجَابَ صَوْمِهِ ، إِذْ عَلِمْنَا أَنَّ كِتَابَ اللَّهِ بَيَّنَ لَهُمْ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ الْمَفْرُوضُ صَوْمُهُ، وَأَبَانَ لَهُمْ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ، وَتَرَكَ إِيجَابَ صَوْمِهِ، وَهُوَ أَوْلَى الْأُمُورِ عِنْدَنَا؛ لأَنَّ حَدِيثَ ابْنِ عُمَرَ وَمُعَاوِيَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ، أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكْتُبْ صَوْمَ يَوْمِ عَاشُورَاءَ عَلَى النَّاسِ، وَلَعَلَّ عَائِشَةَ إِنْ كَانَتْ ذَهَبَتْ إِلَى أَنَّهُ كَانَ وَاجِبًا ثُمَّ نُسِخَ، قَالَتْهُ لأَنَّهُ يَحْتَمِلُ أَنْ تَكُونَ رَأَتِ النَّبِيَّ لَمَّا صَامَهُ وَأَمَرَ بِصَوْمِهِ كَانَ صَوْمُهُ فَرْضًا، ثُمَّ نَسَخَهُ تَرْكُ أَمْرِهِ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَدَعَ صَوْمَهُ، وَلاَ أَحْسَبُهَا ذَهَبَتْ إِلَى هَذَا، وَلاَ ذَهَبَتْ إِلاَّ إِلَى الْمَذْهَبِ الأَوَّلِ؛ لأَنَّ الأَوَّلَ هُوَ مُوَافِقٌ الْقُرْآنَ، أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ الصَّوْمَ فَأَبَانَ أَنَّهُ شَهْرُ رَمَضَانَ، وَدَلَّ حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ وَمُعَاوِيَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِثْلِ مَعْنَى الْقُرْآنِ، بِأَنْ لاَ فَرْضَ فِي الصَّوْمِ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَكَذَلِكَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ: مَا عَلِمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَامَ يَوْمًا يَتَحَرَّى فَضْلَهُ عَلَى الأَيَّامِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ، يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ، كَأَنَّهُ يَذْهَبُ يَتَحَرَّى فَضْلَهُ فِي التَّطَوُّعِ بِصَوْمِهِ
Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa maksud dari pernyataan Aisyah تَرَكَ عَاشُورَاءَadalah tidak adanya kewajiban berpuasa pada hari itu. Karena kita ketahui al-Qur’an telah menjelaskan bahwa bulan Ramadlan yang diwajibkan puasanya. Kemudian Rasulullah menjelaskan masalah puasa ‘Asyuro’ dan tidak mewajibkannya. Ia sekadar menjadi ibadah yang utama bagi kita. Karena hadis Ibn Umar dan Mu’awiyah yang diriwayatkan dari Rasulullah menegaskan bahwa Allah tidak mewajibkan puasa ‘Asyuro’ kepada manusia. Barangkali ‘Aisyah menganggapnya wajib kemudian kewajiban itu dinâsakh. Itu beliau nyatakan karena kemungkinan beliau pernah menyaksikan Rasul berpuasa dan memerintahkan untuk melakukannya, maka menjadi wajib. Kemudian itu dinâsakh oleh tidak adanya perintah; dipersilakan meninggalkannya bagi yang mau (dalam redaksi hadis: وَتَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ). Saya tidak melihat Aisyah berpendapat seperti ini, tidak pula menganut pendapat yang pertama, karena pendapat yang pertama sesuai dengan al-Qur’an; bahwasanya Allah telah mewajibkan puasa, lalu menjelaskan bahwa itu adalah pada bulan Ramadhan. Sedangkan hadis Ibn Umar dan Mu’awiyah adalah semakna dengan al-Qur’an; bahwasanya tidak ada puasa wajib kecuali Ramadlan. Demikian pula pernyataan Ibn Abbas: “Aku tidak pernah menyaksikan Rasulullah saw. berpuasa pada satu hari dengan mencari keutamaan hari tersebut atas hari-hari yang lain, kecuali pada hari ini”, yaitu hari ‘Asyuro’. Seakan-akan Ibn Abbas berpendapat bahwa mencari keutamaan itu dengan berpuasa sunnah.[13]

3.      Fakta sejarah, seperti hadits yang terdapat dalam kitabnya Imam Ibn Majah

حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ الرَّقِّيُّ وَدَاوُدُ بْنُ رَشِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُعَمَّرُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بِشْرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ
Telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Muhamamd Ar Raqqi dan Dawud bin Rasyid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Mu'ammar bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bisyr dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang membekam dan yang dibekam semuanya batal"[14]     

Hadits diatas dimansukh oleh hadits berikut yang diriwayatkan Imam Tirmidzi 
حدثنا بشر بن هلال البصري حدثنا عبد الوارث بن سعيد حدثنا أيوب عن عكرمة عن بن عباس قال احتجم رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو محرم صائم
Dua hadis ini berbicara tentang bekam, hadits  pertama berisi batalnya puasa orang yang membekam dan orang yang berbekam, sedang hadis kedua menerangkan bahwa bekam tidak membatalkan puasa.
Hadits tentang batalnya puasa baik subyek maupun sssobyek bekam juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari jalur  Shaddad. Imam syafi’i menerangkan bahwa hadits yang diriwayatkan shaddad peristiwanya terjadi pada hari al fath (fathu makkah)  pada tahun 8 hijriyah, sedang hadits ibnu Abbas terjadi pada haji Wada’ yang terjadi beberapa tahun setelah fathu makkah yakni pada tahun 10 hijriyahmaka hadits yang kedua menasakh hadits pertama.[15]

Dan berikut ini selengkapnya;
عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَسَعْدٍ وَشَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ وَثَوْبَانَ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَعَائِشَةَ وَمَعْقِلِ بْنِ سِنَانٍ وَيُقَالُ ابْنُ يَسَارٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي مُوسَى وَبِلَالٍ وَسَعْدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَحَدِيثُ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَذُكِرَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَنَّهُ قَالَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ وَذُكِرَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ ثَوْبَانَ وَشَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ لِأَنَّ يَحْيَى بْنَ أَبِي كَثِيرٍ رَوَى عَنْ أَبِي قِلَابَةَ الْحَدِيثَيْنِ جَمِيعًا حَدِيثَ ثَوْبَانَ وَحَدِيثَ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ حَتَّى أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ احْتَجَمَ بِاللَّيْلِ مِنْهُمْ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ وَابْنُ عُمَرَ وَبِهَذَا يَقُولُ ابْنُ الْمُبَارَكِ قَالَ أَبُو عِيسَى سَمِعْت إِسْحَقَ بْنَ مَنْصُورٍ يَقُولُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ مَنْ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ قَالَ إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ وَهَكَذَا قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ حَدَّثَنَا الزَّعْفَرَانِيُّ قَالَ و قَالَ الشَّافِعِيُّ قَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ وَلَا أَعْلَمُ وَاحِدًا مِنْ هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ ثَابِتًا وَلَوْ تَوَقَّى رَجُلٌ الْحِجَامَةَ وَهُوَ صَائِمٌ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ وَلَوْ احْتَجَمَ صَائِمٌ لَمْ أَرَ ذَلِكَ أَنْ يُفْطِرَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَكَذَا كَانَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ بِبَغْدَادَ وَأَمَّا بِمِصْرَ فَمَالَ إِلَى الرُّخْصَةِ وَلَمْ يَرَ بِالْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ بَأْسًا وَاحْتَجَّ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ مُحْرِمٌ صَائِمٌ
Dari Rafi' bin Khadij dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang membekam dan yang dibekam puasanya telah batal". Abu 'Isa berkata; "Hadits yang semakna diriwayatkan dari 'Ali, Sa'ad, Syaddad bin Aus, Tsauban, Usamah bin Zaid, 'Aisyah, Ma'qil bin Sinan atau yang bernama Ibnu Yasar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Musa, Bilal dan Sa'ad." Abu 'Isa berkata; "Hadits Rafi' bin Khadij merupakan hadits hasan shahih. Disebutkan bahwa Ahmad bin Hambal berkata; 'Hadits yang paling shahih dalam hal ini ialah haditsnya Rafi' bin Khudaij.' Ali bin Abdullah berkata; 'Hadits yang paling shahih dalam hal ini ialah haditsnya Tsauban dan Syaddad bin Aus karena Yahya bin Abu Katsir meriwayatkan dari Abu Qilabah kedua hadits tersebut. Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membenci berbekam untuk orang yang sedang berpuasa hingga sebagian sahabat Nabi berbekam pada malam hari. Di antaranya adalah: Abu Musa dan Ibnu Umar. Hal ini juga merupakan pendapatnya Ibnul Mubarak." Abu 'Isa berkata; "Saya mendengar Ishaq bin Manshur berkata; 'Abdurrahman bin Mahdi berkata; "Barang siapa yang berbekam ketika berpuasa maka wajib mengqadlanya." Ishaq bin Manshur berkata; "Demikian itu pendapatnya Ahmad dan Ishaq, telah menceritakan kepada kami Az Za'farani berkata; Syafi'i berkata; 'telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau berbekam ketika berpuasa. Diriwayatkan juga dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Orang yang membekam dan yang dibekam puasanya telah batal". Namun saya tidak tahu hadits mana yang tsabit (dapat dijadikan pedoman) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Jika orang yang berpuasa berhati-hati dan tidak berbekam itu lebih aku sukai, akan tetapi jika dia berbekam menurutku hal itu tidak membatalkan puasa. Abu 'Isa berkata; "Perkataan tadi merupakan pendapatnya Syafi'i di Bagdad. Adapun pendapatnya di Mesir, beliau berpendapat bolehnya orang yang berpuasa untuk berbekam dan tidak membatalkan puasa, beliau berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau berbekam pada waktu Haji Wada' dalam keadaan sedang ihramdan berpuasa."[16]


[1] Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadîts, (Surabaya: Haramain, tt), hlm. 49
[2] Manna’ khalil al-Qattan Mabahis fi ulum al-Qur’an
[3] Manna’ khalil al-Qattan Mabahis fi ulum al-Qur’an
[4] Abdul Wahab khalaf, Ilmu Usul al-fiq Dar al-Rashid, hlm. 205
[5] Abu al Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al Jurjani, al Ta’rifat, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 2003), 237
[6] Jalaluddin al Suyuti, Tadrib al Rawi fi Syarhi Taqrib al Nawawi, (Riyadh: Dar al Toyyibah, t.th), juz 2, 642, lihat Mahmud al Tahhân, Taisir Mustalah al Hadith, (Beirut: Dar al Fikr, t.th), 49
[7] Muhammad bin Muhammad Abu Shuhbah, al Wasit fi ulumi wa musthalah al hadits, (Kairo; Dar al Fikr al Araby, 1982), 459
[8] Ahmad Umar Hasyim, Qowaidu ushul al hadits, (Beirut : Dar al kutub al arabi, 1984), 250.
[9] Sumber: at-Tirmidzi Kitab; Jenazah Bab: Rukhsah tentang ziarah kuburan. No. Hadist: 974
[10] Sumber: at-Tirmidzi Kitab Jenazah, Bab : Dimakruhkan ziarah kubur untuk wanita  No. Hadist: 976
[11] Muhammad bin Idris as-Syafi’i. ikhtilaf al-Hadis, lhm; 70. Cet; Bairut libanun. Dar al-kutub il-miyah; 1971
[12] Abi Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani’ al-Atsrom. Nasikh al-Hadis wa Mansukhu hu, hlm; 186.
[13] Muhammad bin Idris as-Syafi’I. ikhtilaf al-Hadis, lhm; 70. Cet; Bairut libanun. Dar al-kutub il-miyah; 1971
[14] Sumber: Ibnu Majah, Kitab: Puasa, Bab: Berbekam bagi orang yang berpuasa. No. Hadist: 1669
[15] Muhammad bin Idris as-Syafi’i. ikhtilaf al-Hadis, hlm; 70. Cet; Bairut libanun. Dar al-kutub il-miyah; 1971
[16] Sumber: at-Tirmidzi, Kitab: Puasa Bab: Dimakruhkan bekam bagi pelaku puasa. No. Hadist: 705

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar